asap rokonya mulai mengepul lagi
goresan tintanya menggurat dalam ukiran sejarah
gemulai jarinya menari nari di atas tinta
melodi rindu menemani dalam sendu
bola matanya tak mampu menembus kebisuan alam
rakusnya konspirasi yang menyusup dalam setiap peradaban
membuat gejolak kebenaran yang terdampar
ia hanyalah seorang pengemis keadilan
yang selalu menanti keadilan di tepi jalan itu
permainan yang tak kunjung usai menetes keringat lelah di pipinya
ia hanyalah semut kecil yang kehausan di aniyaya oleh singa ompong yang picik
buaian kasihnya tak pernah menghapirinya lagi
mawar ini trlalu lama layu, mati dan tak ada yang perduli
menanti musim itu akan segera berganti
si_ip elud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar